Riba dan Kemacetan Jalan

Bagikan

Pesansingkat.id – Percaya atau tidak, salah satu penyebab kemacetan di jalan adalah riba. Kok bisa? Dalam Islam dosa riba termasuk dosa besar, yang kalau kita baca hadis-hadis tentang riba, rasanya berdiri seluruh bulu kuduk. Karena kengerian kita atas balasan untuk orang yang melakukan riba.

Salah satu contohnya adalah Hadis Nabi dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Riba itu memiliki tujuh puluh tingkatan, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibn Majah, Bab Taghlid Fir Riba, No. 2265)

Bayangkan, yang paling ringan saja dosanya seperti dosa berzina, dengan ibunya pula. Selain begitu besar dosanya, juga betapa bejat pelakunya.

Hadis lain mengatakan, dari ‘Abdullah bin Hanzhalah, yang dimandikan oleh para malaikat, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang, sementara ia mengetahuinya, itu lebih buruk daripada tiga puluh kali berzina.” (HR. Ahmad)

Satu kali berzina saja hukumannya dirazam sampai mati bagi yang sudah punya pasangan, subhanallah, dosa riba lebih buruk daripada tiga puluh kali berzina. Nauzubillahi minzalik.

Balasan dosa riba bukan hanya di akhirat, tetapi juga langsung di dunia.
مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الرِّبَا وَالزِّنَا إِلَّا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidaklah tampak pada suatu kaum riba dan perzinaan melainkan mereka telah menghalalkan bagi mereka mendapatkan siksa Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad, Musnad Ibn Masu’d, No. 3168)

Dalam bahasa Arab, ‘aqoba-yu’kibu, artinya balasan, siksa, teguran bagi umat yang melanggar larangan agama.

Kemacetan yang terjadi di jalan bisa jadi merupakan ‘iqab dari Allah atas dosa riba yang kita lakukan. Bagi yang kegiatan ekonominya di kota besar, seperti Jakarta, kemacetan merupakan makanan sehari-hari. Tidak jarang orang menjadi stres. Karena ia harus berjam-jam berada di jalan. Padahal jika jalanan normal hanya butuh hitungan menit untuk sampai tujuan.

Sebuah penelitian pada tahun lalu di Inggris menyebutkan, jalanan macet dapat menyebabkan seseorang menderita gangguan yang disebut dengan Traffic Stress Syndrom (TSS). Gejalanya antara lain peningkatan detak jantung, telapak tangan mulai berkeringat hingga kram perut. Seseorang yang mengalami TSS akan mulai muncul gejala stres dalam waktu 3-5 menit. (https://lifestyle.okezone.com)

“Mengalami TSS akan memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku pengemudi, seperti kehilangan konsentrasi, sulit untuk fokus, dan mengemudi secara berbahaya atau berisiko,” ujar David Moxon, Kepala Psikologi dari Peterborough Regional College, Inggris, seperti dilansir Roadsafe.org.

Selain butuh waktu yang lebih panjang untuk perjalanan, biaya untuk bahan bakar pun pastinya menjadi lebih besar. Hal yang menyebabkan kemacetan kian hari kian parah di Jakarta adalah kendaraan yang banyak berada di jalan saat jam pulang dan pergi kerja. Kendaraan bermotor yang masuk Jakarta setiap hari ada 18 juta. (Detik Finance)

Jumlah kendaraan yang melewati jalan di ibu kota Jakarta setiap tahun terus meningkat, menurut data transportasi BPS DKI Jakarta, pada 2016 lalu lintas di Jakarta didominasi sepeda motor, yakni 73,92%, mobil penumpang 19,58%, mobil beban 3,83%, mobil bus 1,88%, dan kendaraan khusus 0,79%.

Kendaraan yang terdaftar tercatat ada 13.310. 672 sepeda motor dan 3.525.925 kendaraan penumpang. Pertumbuhan kendaraan roda dua 5,3% setiap tahunnya dan 6,48% untuk kendaraan penumpang.

Untuk 2016 saja Ditlantas Polda Metro Jaya menerbitkan 1.400.850 STNK untuk kendaraan baru. Sementara, pertambahan jalan hanya 0,1% tiap tahun. Bila semua kendaraan tersebut berada di jalan, pada saat bersamaan, niscaya tidak mungkin bisa bergerak.

Salah satu penyebab pertumbuhan kendaraan bermotor yang cepat adalah kemudahan untuk memilikinya melalui sistem kredit. Dengan hanya beberapa ratus ribu, seseorang bisa membawa pulang sepeda motor baru.

Perusahaan leasing memiliki peran yang sangat signifikan dalam mempermudah kepemilikan kendaraan bermotor dengan sistem kredit. Dalam peraktik kredit di perusahaan leasing konvensional, masih ada unsur riba di dalamnya, seperti denda jika telat membayar hingga jatuh tempo.

Selain itu, masalah akad yang tidak jelas, yaitu antara sewa dan beli. Dalam Islam jual beli dibolehkan, begitu juga dengan sewa dibolehkan. Hal yang dilarang adalah jika kedua akad ini digabung.

Demikian pula dengan unsur riba yang ada pada leasing konvensional, yaitu pembiayaannya bersandar pada suku bunga acuan yang apabila ada kenaikan suku bunga yang cukup radikal maka harga cicilan pun akan naik.

Dengan begitu, kredit kendaraan bermotor pada leasing konvensional termasuk riba (masih terjadi khilafiyah di dalamnya).

Terakhir, riba yang sangat kita pahami adalah meminjam uang dengan bunga di dalamnya. Sekarang bagaimana pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur termasuk di dalamnya pembangunan jalan?

Pada hari ini kita tahu bahwa pemerintah dalam membiayai pembangunan jalan-jalan menggunakan dana utang dari luar negeri dengan sistem bunga, atau riba, seperti yang kita pahami. Bisa jadi kemacetan yang menyiksa para pengendara kendaraan bermotor yang terjadi setiap hari merupakan ‘iqab dari Allah atas dosa riba yang sudah begitu menggurita selama ini.

Jadi ada keterkaitan antara kemacetan jalan dan dosa riba yang masih kita lakukan dalam transaksi-transaksi yang berkaitan dengan kepemilikan kendaraan bermotor dan pembangunan jalan-jalan.

Wallahu a’lam…. Semoga bermanfaat.

Oleh M. Adi Cahyadi
(Marbot Majid Al-Madani)


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*