Jangan Pernah Mati Sebelum Memberi Arti | Oleh M. Adi Cahyadi

Bagikan

Pesansingkat.id-Musa paradisiaca memiliki satu keunikan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Dia akan terus tumbuh walau dipotong berulang kali, jika belum berbuah. Namun, bila sudah berbuah, dia akan mati dengan sendirinya, dengan terlebih dahulu meninggalkan generasi penerus.

Musa paradisiaca, adalah nama latin yang paling umum digunakan untuk tanaman pisang. Pohon pisang memang unik. Batangnya hanya batang semu yang sangat rapuh, yang sebagian besarnya adalah air, tetapi dia bisa menghasilkan buah yang sangat bermanfaat bagi makhluk lain. Bahkan, seluruh bagian pohonnya bermanfaat.

Dengan segala kekurangan dan kelebihanya, dia berusaha memberi manfaat. Karena itu merupakan titah dari sang Pencipta alam semesta.

Belajar dari kehidupan pohon pisang tersebut bahwa hidup haruslah memberi arti, walau terkadang segala kekurangan dan halangan selalu datang menghadang. Itu merupakan sunatullah dalam kehidupan. Halangan mesti ada, begitu pun rintangan sama. Demikian juga kekurangan, pasti selalu menyertai hidup setiap manusia. Namun, jangan mati sebelum memberi arti dalam kehidupan.

Ada kisah tentang Abdullah bin Ummi Maktum, yang Allah takdirkan buta sejak kanak-kanak. Beliau termasuk sahabat yang awal masuk Islam. Beliau juga merupakan muazin Rasulullah selain Bilal bin Rabah.

Sejak lama Abdullah sangat ingin turut serta dalam barisan mujahidin dalam berperang. Namun, beliau belum pernah diberi kesempatan karena kekurangannya tersebut. Beliau selalu mengutarakan keinginannya tersebut, tetapi selalu diingatkan bahwa Allah memberinya keringanan untuk tidak turut serta karena faktor udzur syar’i.

Namun, pada saat Perang Qodisiyah sudah tidak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk turut serta dalam peperangan. Dia meminta kepada Umar bin Khaththab agar diizinkan untuk ikut dalam barisan sebagai pemegang panji pasukan Islam. Dia mengatakan akan berada di antara pasukan Islam dan Persia. Dia pun tidak akan mundur walau selangkah apa pun yang terjadi karena kebutaannya.

Akhirnya, dia mendapatkan apa yang diidam-idamkannya, yaitu syahid di dalam jihad fi sabilillah. Sejarah mencatat, beliau benar-benar menepati perkataanya bahwa tidak akan mundur selangkah pun. Dia memegang panji Islam walau tubuhnya mendapat puluhan luka sebelum akhirnya syahid.

Halangan bisa datang bertubi-tubi untuk menyurutkan langkah kita dalam berkarya dan beramal. Namun, bila tekad sudah membaja, itu semua tidak menjadikan kita berhenti untuk melangkah. Seperti pohon pisang yang akan terus tumbuh walau dipotong berkali-kali, bila belum pernah berbuah.

Peran apa pun yang kita mainkan dalam kehidupan ini haruslah menjadi amal terbaik yang akan kita persembahkan untuk Allah semata. Apalagi yang telah tersematkan pada dirinya kata da’i atau kader dakwah, maka semangat berbuat untuk umat haruslah terus hidup, tidak boleh mati walau mungkin berulang kali terpenggal oleh kegagalan.

Untuk perkara dunia saja banyak orang yang sepenuh jiwa dan rasa dalam menempuhnya, seperti Thomas Alfa Edison yang konon ratusan kali gagal sebelum akhirnya berahasil menemukan bola lampu listrik. Colonel Sanders ratusan kali ditolak tawaran kerja samanya untuk bisnis ayam goreng sebelum akhirnya KFC berdiri dan menjamur ke seluruh dunia.

Teruslah berkarya hingga kalimat Ilahi menyentuh seluruh pelosok Ibu Pertiwi, bahkan ke seluruh penjuru negeri. Seorang da’i mesti lihai dalam aksi dan piawai dalam membangun narasi.

Wallahu a’lam…. Semoga bermanfaat.

Editor : Linda


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*