Jangan Mengatakan “Jangan” kepada Anak! Benarkah?

Bagikan

Sekitar dua belas tahun lalu saya pernah mendapatkan sebuah teori baru dalam pendidikan, yaitu jangan pernah mengatakan kata “jangan” kepada anak. Karena konon katanya otak manusia tidak mengenal kata “jangan” sehingga bila dikatakan “jangan” maka yang dilakukan adalah sebaliknya dan akan semakin penasaran dan ingin melakukan sesuatu yang dilarang tersebut.

Bagi saya, ini sesuatu yang baru pada saat itu. Untuk beberapa lama, saya meyakini itu adalah sesuatu yang benar adanya tanpa kecuali.

Namun, sejak mulai berkecimpung dalam dunia pendidikan anak-anak (mengajar tahsin tahfiz) sekitar empat tahun lalu, saya menjadi banyak berinteraksi dengan anak-anak. Hal ini membuat saya banyak mengetahui berbagai macam pola tingkah laku dan karakter anak-anak.

Berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak tersebut dan melakukan sedikit telaah, maka saya berkesimpulan bahwa teori itu tidak cocok jika diterapkan kepada semua usia, tidak cocok jika diterapkan ke semua jenjang pendidikan. Belum, belum tentu cocok jika diterapkan ke semua keadaan.

Memang, terjadi pro dan kontra dalam menyikapi teori ini, baik para orang tua maupun para pendidik. Ada yang secara mutlak setuju dan mempraktikkan teori ini di rumah ataupun di sekolah. Bahkan, ada sekolah yang benar-benar mengharamkan kata “jangan”. Ada yang menolak secara mutlak, tetapi ada juga yang mengambil jalan tengah, yaitu menerima, tetapi dengan syarat.

Baik yang pro maupun kontra, semua berusaha untuk mendasari pendapatnya dengan dalil Alquran atau Sunnah. Di antara pakar parenting dan psikolog yang melarang menggunakan kata “jangan” adalah psikolog Ayoe Sutomo. Beliau beralasan, penggunaan kata “jangan” membuat anak menjadi penasaran, mengapa hal tersebut dilarang sehingga ia enggan menurut.

Menurut konsultan parenting Ayah Edy, orang tua disarankan tidak menggunakan kata “jangan”. Karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata larangan tersebut. Sebagian lainnya memberikan alasan bahwa kata “jangan” membawa nuansa negatif.

Dalam sebuah artikel di Sayangianak.com tertulis, “Mari kita lihat fakta akan kata kontroversial ‘jangan’ ini dalam Alquran. Ada 6.236 ayat dalam Alquran. (tidak percaya, hitung sendiri) Sementara, kata ‘jangan’ tersebar di 368 ayat. Lagi-lagi, kalau tidak percaya, silakan hitung sendiri. Itu berarti ada sekitar 5.868 ayat yang TIDAK memiliki kata “jangan”. Untuk itu, berarti… kata ‘jangan’ bahkan tidak sampai 6% dalam ayat-ayat Alquran.”

Penulis artikel tersebut menulis bahwa dalam Alquran kata perintah dan anjuran lebih banyak daripada larangan yang berbunyi “jangan”. Artinya, kata “jangan”, jangan terlalu sering diucapkan kepada anak, bukan diharamkan atau dilarang total.

Di antara yang menolak teori ini, beralasan salah satunya karena teori ini bertentangan dengan Alquran surat Luqman (31) ayat 13.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya, mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 13)

Luqman bukanlah nabi, tetapi namanya diabadikan dalam Alquran dan nasihat Luqman kepada anaknya bisa menjadi model bagaimana seharusnya mendidik anak. Luqman menggunakan kata “jangan” dalam mendidik anaknya agar mengesakan Allah semata dengan mengatakan, “Janganlah kamu menyekutukan Allah.”

Di beberapa artikel disebutkan bahwa dalam Alquran terdapat tiga ratusan lebih kata “jangan”. Pada artikel lain lima ratusan lebih. Pada artikel lainnya lagi ada tujuh ratusan lebih. Mana yang benar? Wallahu a’lam…. Saya sendiri belum pernah menghitungnya.

Artinya, kata “jangan” bukanlah kata yang terlarang untuk diucapkan dalam mengajar manusia, terutama dalam mengajarkan hal-hal yang perinsip dalam Islam.

Di satu artikel lain juga menggunakan surat Luqman (31) ayat 13 sebagai landasan pendapatnya, ditambah dengan tafsir ayat tersebut dari Tafsir Fi Zhilalil Qur’an: “Sesungguhnya, nasihat seperti ini tidak menggurui dan tidak mengandung tuduhan. Karena orang tua tidak menginginkan bagi anaknya kecuali kebaikan dan orang tua hanya menjadi penasihat bagi anaknya. Luqman melarang anaknya dari berbuat syirik dan dia memberikan alasan atas larangan tersebut bahwa kemusyrikan merupakan kezaliman yang paling besar.”

Teori jangan mengatakan “jangan” tidak cocok diterapkan kepada semua usia. Ada satu artikel di blog debusana.com yang berjudul “Jangan” dalam Ilmu Parenting VS “Jangan” dalam Ilmu Alquran. Di sana tertulis “Minimal ada tiga konteks usia penggunaan kata “jangan” sesuai sikap nabi; untuk anak yang belum berakal, untuk anak yang sudah berakal, dan untuk remaja atau dewasa.”

Penulis tersebut mengklasifikasikan berdasarkan usia objek bicara, atau anak yang akan kita ajak berbicara. Dalam hal ini kelompok usia mana yang boleh menggunakan kata “jangan” dan kelompok usia mana yang dilarang menggunakan kata “jangan”.

Untuk anak-anak balita, beliau menyarankan jangan menggunakan kata “jangan”. Hal ini seperti yang dilakukan Nabi ketika cucu beliau, Hasan dan Husein, bermain-main di atas punggung Rasul ketika beliau sedang shalat atau bermain-main di dalam masjid ketika nabi khotbah, dan nabi tidak melarangnya.

Kelompok usia anak kedua, yaitu anak yang sudah bisa diajak berpikir atau sudah berakal. Beliau menulis bahwa Nabi tidak ragu menggunakan kata “jangan” untuk kelompok usia ini, tetapi disertai dengan solusi. Contoh kasusnya adalah sahabat bernama Rafi’ bin Amr Al Ghifari yang punya hobi melempari buah kurma. Rasul melarangnya, tetapi disertai solusi. Solusinya adalah kalau mau makan kurma, makanlah yang jatuh di tanah, tak perlu melempari yang di pohon.

Kelompok usia ketiga, adalah remaja atau dewasa. Sikap Nabi berbeda perlakuan antara anak-anak dan orang dewasa. Contoh, Nabi mengharamkan atau melarang orang dewasa menyimpan atau memajang patung, tetapi anak-anak dibolehkan bermain patung atau boneka.

Tulisan ini saya rasa juga sesuai dengan perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib yang mengelompokan perlakuan anak berdasarkan usia, “Tujuh tahun pertama perlakukan anakmu sebagai raja, tujuh tahun kedua perlakukan dia sebagai tawanan perang, tujuh tahun ketiga perlakukan dia sebagai sahabatmu.”

Teori jagan mengatakan “jangan” tidak cocok kalau diterapkan ke semua jenjang pendidikan. Saya mendapati ada sebuah sekolah SMA Islam di Jakarta, sekolah ini benar-benar mengharamkan kata “jangan” dalam metode pendidikannya. Ketika istri mengadakan kunjungan ke sana dan melakukan pengamatan terhadap proses belajar-mengajar di sana, sungguh miris karena sebagian besar siswinya tidak berkerudung. Ketika ditanyakan mengapa diperbolehkan tidak memakai kerudung, dijelaskan bahwa tidak boleh melarang siswi tidak berkerudung, biarkan siswi berkerudung berdasarkan kesadarannya.

Ketika guru menerangkan di depan kelas sebagian siswa tidak memperhatikan bahkan ada yang mengobrol berduaan antara siswa perempuan dan lelaki dari awal sampai akhir pelajaran. Ketika ditanya mengapa bisa seperti itu, dijelaskan bahwa guru tidak boleh melarang.

Bila demikian adanya, maka peraturan sekolah tidak mungkin bisa diterapkan. Karena semua harus berdasarkan kesadaran siswa dalam menaatinya. Padahal peraturan sekolah diadakan untuk melatih disiplin bahwa setiap tempat pasti punya peraturannya sendiri.

Teori jangan mengatakan “jangan” tidak cocok diterapkan di semua keadaan. Contoh bila anak kita yang masih balita mendekati bahaya, mendekati api misalnya, kita harus tegas mengatakan “jangan” ke sana. Karena keadaan yang genting, atau ketika anak remaja kita hendak melakukan perbuatan maksiat, maka harus segera diingatkan dengan kata “jangan”, agar dia selalu mengingatnya, atau orang dewasa yang hendak atau sedang menyekutukan Allah, maka dengan tegas kita katakan “jangan”. Karena itu sesuatu yang prinsip, yang tidak ada tawar-menawar.

Dalam Islam sikap pertengahan sangat dianjurkan dalam hal apa pun, seperti yang dikatakan Syekh Yusuf Qardhawi dalam buku Fiqhul Ikhtilaf. Oleh karenanya, sikap pertengahan juga harus menjadi sikap kita dalam menanggapi teori jangan mengatakan “jangan” ini.

Mungkin benar teori jangan mengatakan “jangan” berasal dari barat, tetapi kita tidak bisa pungkiri kebenaran bahwa seseorang akan timbul rasa penasarannya ketika ada kata “jangan”. Contoh bila dikatakan “jangan tonton”, malah semakin banyak orang menonton, atau “jangan tengok kiri”, kita pasti malah menengok ke kiri, tetapi menghilangkan kata “jangan” terhadap kamus pendidikan anak, juga bukan sesuatu yang bijak.

Benar, kita menginginkan anak-anak kita tumbuh menjadi anak kreatif, tetapi kita juga tidak ingin anak kita menjadi terlalu kreatif hingga berani mengakali aturan hukum Allah atau negara untuk dilanggar.

Benar, kita menginginkan anak kita tumbuh menjadi anak berani dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya, tetapi kita juga tidak ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang berani mengotak-atik sesuatu yang sudah baku dalam agama.

Benar, kita menginginkan anak kita tumbuh menjadi anak kaya inisiatif, tetapi kita juga tidak ingin anak kita tumbuh menjadi inisiator dalam kemaksiatan.

Selain itu, kita juga memang tetap harus selektif dalam menerima segala sesuatu yang datang dari barat. Walau kita akui bahwa mereka tengah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam segala bidang terutama teknologi, kita tidak boleh lupa bahwa science mereka dilatari semangat untuk melawan gereja atau melawan Tuhan dan meniadakan Tuhan dalam kehidupan.

Saya mencoba menelusuri ke mana sandaran teori ini (jangan mengatakan “jangan”). Saya mendapati bahwa teori ini bersandar pada teori tentang otak Dr. Paul Maclean. Dia mencetuskan bahwa ada tiga otak dalam satu kepala (otak triune). Menurut teori ini, otak manusia sebenarnya terdiri atas tiga bagian otak, yaitu otak reptil, otak mamalia, dan otak neo-kortex.

Menurut ahli parenting Ayah Edy, Otak reptil memiliki kelemahan utama, yaitu tidak mampu mencerna kata “jangan”. Karena kata “jangan” itu tidak termasuk “kata Kerja” atau “kata benda”. Teori tentang tiga bagian otak ini jika kita telusuri ke mana sandarannya, akan kita dapatkan bahwa teori ini bersandar pada teori evolusi Charles Darwin. Kita tahu teori Darwin sebenarnya ingin mengatakan bahwa tidak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan manusia.

Mengapa saya menulis ini? Karena saya mendapatkan ada beberapa sekolah dan orang tua yang benar-benar mengharamkan kata “jangan” dalam mendidik anak. Ada kekhawatiran dalam hati ini bahwa ke depan akan lahir manusia-manusia yang menuhankan kebebasan. Karena tidak pernah mengenal kata “jangan”.

Wallahu a’lam…. Semoga bermanfaat.

M.Adi Cahyadi

Editor : Linda


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*