Berdoa dengan Sepenuh-penuh Keyakinan

Bagikan

Pesansingkat.id-Malam ketika sebelum Perang Badar berkecamuk Rasulullah Muhammad saw. tidak tidur sepanjang malam. Beliau terus saja berdoa, ruku, dan sujud sepanjang malam memohon pertolongan kepada Allah Swt..

Rasul memohon kemenangan dalam pertempuran esok hari. Beliau begitu khawatir jika kaum muslimin kalah, maka tidak akan ada lagi manusia yang menyembah Allah di muka bumi untuk selama-lamanya.

Ketika pasukan muslimin dan kafir sudah berhadap-hadapan, Rasul masih saja menengadahkan tangannya ke langit dengan becucuran air mata. Beliau memohon pertolongan Allah Swt, sampai selendangnya terjatuh.

Abu Bakar yang ada di sebelahnya merasa iba dan memungut selendang itu sambil berkata kepada Rasul, “Cukup, wahai Rasulullah. Allah pasti mengabulkan doamu dengan kemenangan pasukan kita.”

Bayangkan, Rasul yang mulia, yang maksum, kekasih Allah, yang jika berdoa pasti diijabah oleh Allah Swt., tetap berdoa kepada Allah sampai sebegitu dahsyatnya. Sekarang, hari ini, bagaimana dengan kita? Kita yang sedang banyak menghadapi persolan hidup, masalah rezekikah, rumah tanggakah, sakitkah, anakkah…. Sudahkah kita memohon kepada Allah atas segala persoalan itu?

Mungkin kita akan mengatakan saya sudah berdoa kepada Allah, tetapi masih belum juga diijabah oleh Allah. Seperti apa kita ketika berdoa kepada Allah? Sudahkah kita berdoa seperti Rasul berdoa, dengan terus-menerus dan disertai ketaatan dan keyakinan yang penuh akan kemahakuasaan Allah atas segala sesuatu?

Mungkin kita sering berdoa, tetapi dengan hati yang lalai. Mungkin kita sering berdoa, tetapi dengan tetap saja melakukan maksiat kepada-Nya. Mungkin kita sering berdoa, tetapi dengan hati yang tidak yakin dengan kemahakuasaan-Nya.

Lalu bagaimana mungkin doa kita didengar, sedangkan kita lalai, maksiat, juga tidak yakin atas kemahakuasaan Allah?

Nabi Musa ketika berdakwah kepada Firaun mendapat tantangan yang luar biasa dahsyat. Suatu ketika Firaun memerintahkan kepada pasukannya untuk membinasakan Musa dan para pengikutnya. Sampai pada hari yang begitu menegangkan, Musa dan para pengikutnya dikepung dan dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya.

Musa dan para pengikutnya terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Dalam keadaan terdesak, Nabi Musa tidak tahu lagi mesti dbawa ke mana para pengikutnya, tetapi Allah memberi petunjuk agar Nabi Musa membawa pengikutnya mengarah ke laut.

Dalam strategi perang, skenario melarikan diri ke laut dalam pertempuran bukanlah pilihan yang baik. Melarikan diri itu seharusnya ke gunung atau hutan. Akan tetapi, Nabi Musa yakin dengan pertolongan dan janji Allah. Beliau tetap taat kepada Allah, meski menuai protes dari kaumnya sendiri.

Sampailah pada saat yang paling genting, ketika Nabi Musa sudah di tepi laut dan Firaun sudah mengepungnya. Mereka sudah tidak mungkin lagi untuk bisa lari. Di belakang ada Firaun dan pasukannya, di depan ada lautan yang membentang luas.

Pada saat seperti ini tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain pasrah dengan sepenuh-penuh pengharapan kepada Allah Swt.. Lalu apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar logika manusia mana pun di muka bumi sekarang ataupun masa lalu. Laut terbelah, airnya naik membentuk seperti tebing, dasarnya kering sehingga memungkinkan untuk Musa dan pengikutnya berjalan melaluinya.

Begitulah seharusnya diri ini, seperti Nabi Musa taat dengan perintah Allah, yakin, memohon pertolongan-Nya. Ikhtiar dan pasrahlah, maka Allah akan memberikan jalan yang tidak disangka-sangka.

Begitu pula seharusnya diri ini, seperti Nabi Muhammad, berdoa dengan penuh pengharapan, mengiba, menghamba, yakin, pasrah, maka Allah akan memberi kemenangan.

Wallahu’alam….

(M. Adi Cahyadi)
Marbot Masjid Al-Madani Puri Serpong 1


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*