Belajar Kehidupan dari Hujan

Bagikan

Pesansingkat.id-Setiap kali hujan turun selalu mewarnai hati setiap insan di muka bumi. Ada yang bahagia karena tanamannya akan tumbuh dengan subur. Karena tanaman itu terairi dengan cukup. Ada yang gundah gulana. Karena khawatir dagangannya tidak laku. Ada yang cemas. Karena khawatir banjir yang selalu datang setiap kali hujan turun.

Memang begitu adanya hujan, akan selalu membawa siapa pun hanyut tenggelam dalam rasa yang rupa-rupa. Sejatinya, hujan adalah rahmat dari yang Mahatahu setiap hati manusia, rahmat dari yang Maha Menggenggam setiap jiwa, rahmat dari sang pelukis jagat raya.

Seyogianya syukur yang pertama terucap dari bibir ini ketika hujan turun. Tidak elok rasanya bila caci maki apalagi umpatan ketika Allah yang Maharahim menebar rahmatnya. Baginda Nabi tercinta mengajarkan kepada kita ketika turun hujan ucapkanlah doa اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعا (Ya Allah, turunkan kepada kami hujan yang bermanfaat).

Berharaplah manfaat dari hujan yang Allah turunkan, walau kita terkadang basah kuyup dibuatnya. Karena mungkin ketika hujan turun kita sedang berada dalam perjalanan. Berharaplah kesehatan dari setiap butiran airnya yang menerpa tubuh ini.

Setidaknya, ada tiga jenis hujan yang bisa kita ambil hikmahnya.

Hujan pertama adalah hujan yang turun dari langit membasahi bumi. Kemudian diterpa sinar matahari. Hilang menguap tanpa bekas sama sekali, kering tetap kering, tandus tetap tandus, gersang tetap gersang, hilang tanpa jejak.

Begitu pun dalam kehidupan ini, ada model manusia seperti itu. Mereka dilahirkan ke muka bumi, makan, tumbuh, tua, dan mati, tetapi tidak meninggalkan kesan apa pun.

Sungguh berada dalam kerugian manusia seperti ini, Allah Yang Maha Pencipta melahirkannya ke muka bumi dengan membawa mandat sebagai pemakmur bumi. Namun, usia yang diberikan hanya dihiasi dengan kesia-siaan. Tidak memberikan arti apa pun dalam kehidupan. Jangankan untuk orang lain, untuk diri mereka pun tidak memberi manfaat. Bahkan, cenderung membuat kerugian untuk orang di sekitarnya. Malah terkadang kehadiran mereka membawa bencana buat orang lain.

Allah tentu saja berharap kita beramal dengan amanah kehidupan yang Dia berikan. Ibnu Qayyim berkata dalam bukunya, al- Jawab al-Kafi:

“Sebenarnya, waktu manusia adalah umurnya. Waktu adalah materi kehidupannya yang abadi. Waktu berjalan seperti awan berjalan. Barang siapa yang waktunya berjalan untuk Allah dan bersama Allah, maka itulah sebenarnya kehidupan dan umurnya. Selain daripada itu, tidak masuk dalam kehidupannya. Jika dia menghabiskan waktunya dalam kelupaan, kesenangan, dan angan-angan yang batil, tidur dan menganggur, maka kematian lebih baik baginya.”

Hujan kedua, adalah hujan yang yang turun dari langit, membasahi bumi lalu diserap bumi, menjadi mata air, dan kemudian dari sana tumbuhlah berbagai macam tumbuhan.
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi. Di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.” (QS. Yunus: 24)

Model manusia seperti hujan yang kedua ini adalah mereka yang dilahirkan ke muka bumi, lalu menghiasi hidup mereka dengan amal dan perbuatan yang bermanfaat untuk dirinya. Mereka penuhi hak-hak Allah, makhluk, dan alam di sekitarnya.

Mereka tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan beramal untuk dirinya. Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari menubuatkan nasihatnya dalam Al-Hikam, “Menunda amal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang, termasuk tanda kebodohan.”

Hujan ketiga adalah hujan yang turun dari langit, diserap bumi, menumbuhkan berbagai macam tumbuhan, menjadi mata air yang memancar, lalu mengalir menjadi sungai, memberi manfaat kepada setiap tempat yang dilaluinya.

Manusia seperti ini diberi kesempatan yang sama dengan manusia lainnya, diberi potensi dasar yang sama, seperti manusia pada umumnya. Namun, perbuatan mereka mampu memberikan manfaat bukan hanya untuk diri mereka, juga untuk orang lain.

Bahkan, terkadang memberi manfaat untuk sebanyak-banyak orang. Bukan hanya pada masa mereka hidup, tetapi sampai berpuluh-puluh generasi sesudahnya. Sungguh luar biasa orang seperti ini, bagaikan mata air yang tidak pernah kering, terus saja memancar memberi manfaat.

Sampai hari ini ada sebuah rekening bank beratasnamakan Utsman bin Affan. Ini merupakan rekening yang ada karena wakaf sumur beliau di Madinah pada masa lalu. Sungguh, sebuah investasi harta yang tidak berujung kemanfaatannya untuk beliau juga orang lain.

Sampai hari ini, masih ada jutaan orang mengambil manfaat dari Shahih Bukhari. Ini merupakan hasil jerih payah Imam Bukhari pada masa lalu dalam mengumpulkan hadis. Sungguh, sebuah investasi waktu yang tak berujung kemanfaatannya hingga akhir zaman kelak, insyaallah.

Sampai hari ini pula, sudah berpuluh-puluh generasi memetik ilmu dari karya para Ulama Fikih Imam mazhab yang empat. Ini merupakan hasil investasi ilmu mereka pada masa lalu. Sungguh, kemanfaatan yang tak terbatas oleh waktu dan tempat.

Ingin menjadi hujan yang manakah diri kita?

Hadir, lalu hilang tanpa manfaat, atau mengisi dan menghiasi diri dengan amal, atau berbuat untuk diri ini dan orang lain? Tentunya, agar diri kita bermanfaat untuk hari ini dan masa yang akan datang.

(Oleh M. Adi Cahyadi P)


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*