Ngeriiiii ! Anak Indonesia Bisa Retas Sistem Komputer di 42 Negara

Bagikan

Berikut salah satu modus kejahatan Cyber yang dilakukan oleh anak Indinesia seperti dilansir oleh  Detik.com dan CNN Indonesia beberapa waktu lalu

Jakarta .Detik.com- Surabaya Black Hat, komunitas hacker asal Surabaya memeras perusahaan yang diretas sistemnya oleh mereka. Dari hasil peretasan itu, mereka mengumpulkan sejumlah uang dalam bentuk bitcoin dan paypal.

Mereka mengakses komputer dan atau sistem milik orang lain dengan cara apapun yang bertujuan memperoleh informasi eletronik atau dokumen elektronik dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan (dengan cara hacking) kemudian mengancam atau menakut-nakuti dengan meminta sejumlah uang,” terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Polisi menemukan aliran uang dari sejumlah perusahaan yang menjadi korban peretasan ke rekening para pelaku. Rekening tersebut berupa bitcoin dan paypal.

“Selama periode 2016, rekening bitcoin dan paypal para pelaku ini dalam bentuk USD yang dikonversikan ke dalam rupiah senilai ratusan juta rupiah,” imbuhnya.

Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengatakan, motif para hacker ini adalah untuk keuntungan ekonomi.

“Mereka meminta sejumlah uang, yang dalam kurun waktu 2017 menerima lebih dari Rp 500 juta dalam bentuk bitcoin dan paypal,” kata Roberto.

Tiga dari enam pelaku ditangkap di Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (11/3/2018) kemarin. Mereka telah meretas ribuan sistem, website maupun data perusahaan dan instansi pemerintahan.

Tidak hanya di Indonesia, mereka juga meretas sistem pemerintahan di luar negeri. Ada 42 negara yang diretas oleh komunitas Surabaya Black Hat ini.
(mei/tor)

FBI Turun Tangan Tangkap Hacker Surabaya Black Hat

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 17:11 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dikabarkan turun tangan langsung menangkap sindikat peretas ratusan situs dan sistem elektronik Surabaya Black Hat di Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Komisaris Besar Frans Barung Mangera mengatakan ada dua warga Surabaya yang diamankan oleh FBI dan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya dua hari lalu itu.

“Kami sebatas diberitahu saja,” kata Barung, Selasa (13/3).

Dari keduanya, diamankan sejumlah barang bukti seperti laptop, gadget, dan modem. Barung mengaku tidak bisa menjelaskan detail karena pihaknya hanya sebatas diberitahu bahwa ada penangkapan di Surabaya oleh FBI dan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya.

Dua orang yang diamankan di kediaman masing-masing adalah adalah KPS, warga Kecamatan Sawahan, dan NA, warga Kecamatan Gubeng.

Polisi menyebut, KPS dan NA masing-masing meretas lebih dari 600 website dan sistem data elektronik di dalam dan luar negeri.

Adapun Polda Metro Jaya menyebut, ada tiga orang yang ditangkap di Surabaya terkait dugaan peretasan ini. Selain KPS dan NA, ditangkap pula ATP. Mereka tergabung dalam komunitas Surabaya Black Hat (SBH).

“Hingga saat ini telah ditangkap tiga dari target 6 tersangka yang mengatasnamakan dirinya kelompok SBH,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Raden Komisaris Besar Prabowo Argo Yuwono Kombes Argo Yuwono.

Saat ini kedua tersangka diamakan tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan.

Para tersangka peretas situs web tersebut terancam dikenai Pasal 30 jo 46 dan atau pasal 29 jo 45B dan atau 32 Jo Pasal 48 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 3, 4, dan 5 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang).

Ada lebih dari 44 negara, termasuk Indonesia dan Amerika yang diretas komunitas Surabaya Black Hat. Negara lain yang diretas antara lain Vietnam, Cile, Kolombia, Irlandia, Iran, Ceko, Bulgaria, Perancis, Inggris, dan Jerman. (dik/osc)

Dari kegiatan yang dilakukan kelompok (SBH) ini sangat sistematis dan terorganisasi dengan baik sehingga kelompok ini dapat melakukan kejahatan terhadap banyak perusahaan di banyak Negara yang beberapa diantaranya telah disebutkan, bahkan dikatakan terdapat tindak pemerasan dan pencucian uang yang bisa dikatakan kegiatan mereka sangat kompleks.
Menurut pandangan penulis bahwa langkah yang diambil oleh pihak kepolisian sudah tepat, karna dari kejahatan yang dilakukan oleh (SBH) ini banyak melibatkan berbagai kegiatan kejahatan di berbagai negara, sehingga kepolisian bahkan harus melibatkan FBI dalam penanganan kasus ini.
Adapun yang penulis ambil dari kasus ini ada baiknya pemerintah atau lembaga pembuat undang-undang mengajak organisasi-organisasi yang terkait dengan teknologi informasi agar dapat mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan kejahatan yang bisa terjadi di dunia Cyber ini. Karna apabila undang-undang yang dibuat hanya berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi bisa menimbulkan banyaknya permasalahan yang terus berkembang yang terus mencari celah-celah undang-undang yang ada sehingga akan sulit untuk mengambil tindakan hukum terhadap penyalah gunan yang berkaitan dengan dunia Cyber.

 

Note :

Artikel ini dibuat untuk mengikuti UAS semester 6 tahun 2018 BSI kelas 12.6C.27 dengan anggota :

Mata Kuliah : Etika Profesi Teknologi Informasi  Komunikasi

Dosen            : Mohammad Noviansyah

1.Apip  NIM 12150005

2.Hadiansyah A.G  NIM 12150617

3.Musbi’in NIM 12153140

4.Miftakhul Anam  NIM 12155442

5.Dedi Sutomo  NIM 12152816

 


Bagikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*